Untuk memahami mengapa bencana ini begitu sering terjadi di Nepal, kita perlu melihat faktor-faktor penyebabnya. Pertama, topografi Nepal yang didominasi pegunungan dengan lereng curam menjadi faktor utama. Saat hujan deras turun, air dengan cepat mengalir ke lembah dan sungai, menciptakan aliran yang sangat kuat.
Kedua, musim hujan atau monsun. Setiap tahun antara Juni dan September, Nepal menerima curah hujan yang sangat tinggi. Intensitas hujan yang ekstrem dalam waktu singkat sering kali memicu tanah longsor dan banjir bandang di daerah pegunungan.
Ketiga, aktivitas manusia. Deforestasi atau penggundulan hutan untuk pertanian dan pembangunan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Selain itu, pembangunan permukiman di bantaran sungai dan daerah rawan bencana meningkatkan risiko saat banjir bandang terjadi.
Keempat, faktor geologi. Nepal berada di zona tektonik aktif yang sering mengalami gempa bumi. Gempa besar tahun 2015, misalnya, telah mengubah struktur lereng dan membuatnya lebih rentan longsor. Longsoran ini sering memicu bendungan alami di sungai yang kemudian jebol dan menyebabkan banjir bandang dahsyat.
Bencana banjir bandang di Nepal tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka sosial dan ekonomi yang dalam. Dampak paling langsung adalah korban jiwa. Banyak orang yang tersapu air bah saat tidur atau bekerja tanpa sempat menyelamatkan diri. Ribuan keluarga kehilangan rumah dan tempat tinggal dalam sekejap.
Selain itu, infrastruktur vital seperti jembatan, jalan raya, dan saluran irigasi hancur. Di Nepal yang medannya sulit, jembatan merupakan jalur penghubung utama antar desa. Ketika jembatan putus, akses bantuan darurat menjadi terhambat, dan isolasi wilayah terdampak bisa berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Sektor pertanian juga sangat terpukul. Lahan pertanian yang subur di sepanjang lembah sungai sering kali terkubur lumpur atau hanyut terbawa banjir. Bagi masyarakat pedesaan yang sebagian besar hidup dari bertani, kehilangan lahan berarti kehilangan sumber penghidupan utama.
Tidak kalah penting adalah dampak psikologis. Trauma akibat kehilangan anggota keluarga, rumah, dan harta benda meninggalkan luka yang sulit sembuh. Banyak korban yang kemudian harus hidup di tenda pengungsian dengan kondisi serba terbatas.
Salah satu peristiwa paling mematikan terjadi pada tahun 2021 di daerah Melamchi, sekitar 50 kilometer dari Kathmandu. Banjir bandang yang dipicu oleh hujan deras dan jebolnya bendungan alami akibat tanah longsor menghancurkan sebagian besar infrastruktur di kawasan tersebut. Proyek penyediaan air minum terbesar di Nepal, yang memasok air ke ibu kota, hancur total. Puluhan orang tewas dan ratusan lainnya hilang.
Bencana serupa juga terjadi di kawasan Terai, dataran rendah di selatan Nepal. Pada tahun 2017, banjir bandang di wilayah ini menewaskan lebih dari 100 orang dan mempengaruhi jutaan penduduk. Air bah menggenangi permukiman dan lahan pertanian dalam waktu yang lama.
Pemerintah Nepal dan berbagai organisasi internasional telah berupaya mengurangi risiko banjir bandang. Sistem peringatan dini mulai diterapkan di beberapa sungai berbahaya. Alat deteksi ketinggian air dan sensor longsor dipasang untuk memberikan peringatan lebih awal kepada masyarakat di hilir.
Pembangunan tanggul dan struktur pengendali banjir juga terus dilakukan, meskipun terkendala anggaran dan medan yang sulit. Selain itu, program reboisasi dan konservasi lahan di daerah hulu sungai digalakkan untuk mengembalikan fungsi alamiah hutan dalam menyerap air hujan.
Namun, tantangan terbesar adalah kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat. Di banyak desa terpencil, edukasi tentang risiko bencana masih kurang. Banyak penduduk yang enggan meninggalkan rumah meski peringatan sudah diberikan, atau tidak memiliki akses terhadap informasi peringatan dini.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim akan membuat bencana banjir bandang di Nepal semakin sering dan semakin parah. Pola hujan menjadi tidak menentu; hujan ekstrem yang biasanya terjadi sekali dalam 50 tahun kini bisa terjadi setiap beberapa tahun sekali. Gletser di Himalaya juga mencair dengan cepat, dan danau glasial yang terbentuk berpotensi jebol dan menyebabkan banjir bandang dahsyat.
Bagi Nepal, bencana banjir bandang bukanlah sesuatu yang baru, tetapi ancamannya semakin besar. Masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama dalam mitigasi jangka panjang, mulai dari tata ruang yang lebih baik, pengelolaan lingkungan, hingga penguatan sistem peringatan dini.
Bencana banjir bandang di Nepal adalah cerminan dari kerentanan geografis dan sosial yang kompleks. Setiap musim hujan membawa kekhawatiran baru bagi jutaan penduduk yang tinggal di lembah dan lereng gunung. Meskipun upaya mitigasi terus dilakukan, keterbatasan sumber daya dan tantangan alam membuat risiko tetap tinggi. Yang terpenting saat ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, memperkuat infrastruktur tahan bencana, dan mengurangi dampak perubahan iklim. Hanya dengan pendekatan menyeluruh, Nepal dapat mengurangi jumlah korban dan kerusakan akibat banjir bandang di masa depan.